Friday, October 8, 2010

Cintailah Mereka


Mengapa aku memilih kerjaya ini? Mengapa? Teringat aku suatu ketika dahulu guru Matematik Tambahan aku pernah berkata,
“Ina, mengapa kamu mahu memilih bidang Pendidikan Khas? Kalau macam tu lebih baik jangan ambil matapelajaran Matematik Tambahan!” .
Ouch.. Aku terkesima.. Mengapa guruku? Salahkah aku memilih bidang Pendidikan Khas?

Sekali lagi aku dilemparkan tomahan ketika aku ingin memilih bidang Pendidikan Khas sebagai bidang yang ingin aku ceburi setelah tamat menduduki peperiksaan SPM oleh ibu saudaraku yang tidak bersetuju denganku.
“Ang nak mengajaq anak-anak cacat ka? Biaq betui..Ambikla kursus yang bagus sikit…Tolongla…”
Mengapa ibu saudaraku? Salahkah aku memilih bidang Pendidikan khas?

Suatu hari, jiranku datang kepadaku...
Agak pelik kelakuannya.. Bergerak ke sana ke sini. Ketawa berdekah-dekah. Lantas dia berkata kepadaku,
“Aku berlakon jadi budak cacat.. Hang kan nak mengajaq budak cacat..”
Ku dengar hilai tawanya semakin panjang.Aku menarik nafas panjang. Ya Allah, salahkah aku memilih bidang pendidikan Khas? Mengapa jiranku? Salahkah aku memilih bidang Pendidikan Khas?

Di suatu pagi yang cerah.Ibuku menghampiri aku.
” Emm…Mak dengaq orang tua-tua kata kalau mengajaq budak-budak cacat ni nanti kena tulah..Ang tau apa dia tu.Kalau esok hang dah berkeluarga, dah mengandung.Hang pergi sekolah,lepas tu mengajaq budak-budak cacat.Hang tak takut esok-esok anak hang lahir cacat
jugak? Macam budak-budak cacat yang hang mengajaq tu?”
Wahai ibuku, hancur luluh hati anakmu mendengar luahanmu.. Mengapa ibuku? Salahkah aku memilih bidang Pendidikan Khas?



Ketika aku berada di tingkatan empat, ku lihat wajah-wajah yang mengharapkan perhatian. Ku lihat ada sinar di wajahnya. Ada yang bersifat keanak-anakan sedangkan usia mereka sebaya denganku malah lebih tua dariku. Aku sering memandang ke tingkap kelasku. Ceria mereka mengusik guru-guru mereka. Aku melihat lagi, seorang pelajar perempuan yang mungkin sebaya denganku memeluk gurunya seerat-eratnya. Senyuman ikhlas terpancar diwajahnya. Mungkin ingin luahan rasa terima kasih kepada gurunya. Mungkin sayangkan gurunya. Mungkin dia memerlukan perhatian dan belaian kasih sayang yang tak terhingga. Kenangan lama terpaut kembali andai aku pulang ke desa. Sememangnya memberi nostalgia lama dan menggamit seribu kenangan.

Mengapa? Kerana di situlah cintaku mula bercambah. Bercambah dan semakin bercambah.Ya! Aku memilih bidang perguruan. Aku ingin menjadi seorang guru Pendidikan Khas. Itu matlamatku. Akhirnya terlaksana jua keinginanku kerana aku dapat melanjutkan pelajaran di Institut Pendidikan Guru di utara tanah air. Bidang Pendidikan Khas tetap menjadi pilihanku. Hari berganti hari. Sudah genap dua tahun aku menjadi seorang pelajar dan bakal guru demi menggemgam segulung ijazah dalam bidang Pendidikan khas.

Kesabaran tetap menjadi kunci dalam hidupku. Perit jerih aku di institut tidak
mematahkan semangatku demi bergelar seorang pendidik. Tahun pertama aku di
institut pendidikan guru, aku diberi latihan keguruan. Selama seminggu aku perlu ke
sekolah untuk menjalani Pengalaman Berasaskan Sekolah. Selama seminggu, aku
datang ke sekolah. Menuju kelas yang sama. Kelas Pendidikan Khas Bermasalah
Pembelajaran. Aku melihat realitinya. Ya! Memang ini yang akanku hadapi kelak.

Kanak-kanak hiperaktif, Sindrom Down, Disleksia, autisme, Slow learner..
Ya, Allah, kuatkan semangatku demi cinta ini.
“Aku cokelat superman…”
“Aku sak bisa nagis….”
“Bia kelisih ku pei ninggalkanku..”
Lamunanku terhenti. Aku melihat Nasrullah seorang kanak-kanak menyanyi dengan gembiranya. Tiada apa yang perlu difikirkan oleh kanak-kanak ini. Hanya bauan syurga yang bakal menggamitnya.

Setiap hari aku di kelas itu, anak-anak bakal penghuni syurga ini akan menghulurkan
tangan. Salam tanda hormat kepada gurunya. Hatiku merintih sayu.Syahdu.Tidak
dapat ku gambarkan betapa syahdunya hati ini kerana setiap hari bakal penghuni
syurga ini akan selalu tersenyum kepadaku. Bersalam denganku.
Ya, Allah aku amat bersyukur dengan nikmat yang engkau berikan . .

Wahai dunia... Ingin aku katakan.. Anak-anak kecil tanpa berdosa ini memerlukan kasih
sayang. Perhatian yang tidak terhingga. Jadikanlah kesabaran melekat di hati agar
amanah yang Allah berikan tidak disia-siakan. Aku ingin jua katakan kepada diriku..
Wahai Hati, tabahlah.. Engkau bakal menjadi guru.Guru pendidikan Khas. Jangan engkau
mengingkari janji-janji kepada Tuhanmu. Jangan sesekali-kali. Perbanyakkanlah ilmu di
dada. Engkau guru yang teristimewa!

Ya.... Sangat istimewa...
Ya Allah berikan aku ketabahan.. Berikan kepadaku hati yang ikhlas untuk anak-anak
ini..Demi Kasih ini, akanku hadapi dengan berbekalkan keazaman!

CINTAILAH mereka yang memerlukan !

Hikmah Nya itu Pasti

Apa sebenarnya HIKMAH itu ?
Mengapa kami membuat "KATA-KATA HIKMAH" ?
Dalam Al Quran Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya) :

”Allah menganugrahkan AL- HIKMAH  kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugrahi AL-HIKMAH itu, ia benar-benar telah dianugrahi KARUNIA yang BANYAK. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran.” (QS Al Baqarah : 269)

Definisi AL-HIKMAH  secara bahasa menurut kamus bahasa Arab, AL-HIKMAH berarti : kebijaksanaan, pendapat atau pikiran yang bagus, pengetahuan, filsafat, kenabian, keadilan, peribahasa (kata-kata bijak), dan al-­Qur’anul karim.

Sedangkan Imam al-Jurjani rahimahullah dalam kitabnya memberikan makna AL-HIKMAH secara bahasa artinya : ilmu yang disertai amal (perbuatan), atau perkataan yang logis dan bersih dari kesia-siaan.  
AL-HIKMAH juga bermakna : kumpulan keutamaan dan kemuliaan yang mampu membuat pemiliknya menempatkan sesuatu pada tempatnya (proporsional/ADIL)
 AL-HIKMAH juga merupakan ungkapan dari perbuatan seseorang yang dilakukan pada waktu yang tepat dan dengan cara yang tepat pula.

Orang yang ahli ilmu HIKMAH disebut al-Hakim, bentuk jamaknya (plural) adalah al-Hukama. Yaitu orang-orang yang perkataan dan perbuatannya sesuai dengan sunnah Rasulullah.”.


Para ulama tafsir rahimahumullah juga mempunyai definisi masing-­masing tentang ilmu AL-HIKMAH. Yang mana antar pendapat tersebut saling berkaitan dan melengkapi satu sama lain.

Imam Mujahid mengartikan AL-HIKMAH, “Benar dalam perkataan dan perbuatan”.

Ibnu Zaid memaknai, “Cendekia dalam memahami agama.”

Malik bin Anas mengartikan, “Pengetahuan dan pemahaman yang dalam terhadap agama Allah, lalu mengikuti ajarannya.”

Ibnul Qasim mengatakan, “Memahami ajaran agama Allah lalu mengikutinya dan mengamalkannya.”

Imam Ibrahim an-Nakho’i mengartikan, “Memahami apa yang dikandung al-Qur’an.”

Imam as-Suddiy mengartikan AL-HIKMAH dengan an-Nubuwwah (kenabian).

Ar-rabi’ bin Anas berkata, “Rasa takut kepada Allah.”

Hasan al-Bashri memaknai, “Sifat wara’ (hati­-hati dalam masalah halal dan haram).”

Imam al-Qurthubi berkata, “Semua makna di atas saling berkaitan satu sama lain, kecuali pendapat as-­Suddi, ar-Rabi’ dan al-Hasan. Ketiga pendapat mereka saling berdekatan satu sama lain. Karena AL-HIKMAH sumbernya dari AL-AHKAM. Yang artinya mumpuni dalam perkataan dan perbuatan. Dan semua makna yang disebutkan di atas adalah bagian dari AL-HIKMAH. Al-Qur’an itu HIKMAH, sunnah Rasulullah juga HIKMAH.”

Imam at-Thabari rahimahullah menambahkan, “Menurut kami, makna HIKMAH yang tepat adalah ilmu tentang hukum-hukum Allah yang tidak bisa dipahaminya kecuali melalui penjelasan Rasulullah. Dengan begitu al-HIKMAH disini berasal dari kata al­-Hukmu yang bermakna penjelasan antara yang haq dan yang bathil. Seperti kalimat al-Jilsah berasal dari kata al-Julus. Kalau dikatakan bahwa si Fulan itu orang yang Hakiim, berarti dia itu orang yang benar dalam perkataan dan perbuatan.”
 HIKMAH itu adalah Setiap perkataan yang benar yang menyebabkan perbuatan yang benar.
HIKMAH ialah: ilmu yang bermanfaat dan amal shaleh, kebenaran dalam perbuatan dan perkataan, mengetahui kebenaran dan mengamalkanya.

Dengan demikian tepat sekali pemahaman tersebut dengan hadits berikut:
” Barang siapa yang Allah menghendaki KEBAIKAN kepadanya, maka Allah menjadikan dia ‘FAQIH’ (FAHAM yang MENDALAM) dalam ilmu AGAMA” (Muttafaqun 'alaih)

Abu ja’far Muhammad menyebutkan apabila di dalam Al-Qur’an di sebutkan kata kata HIKMAH setelah al kitab yaitu maksudnya Al Quran dan ASSUNNAH.
 Perhatikanlah ayat-­ayat berikut, misalnya: Artinya: “Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-HIKMAH (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana”. (Al baqarah 129)

Artinya : “Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan AL-HIKMAH (as-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata, (QS. at. Jumu’ah: 2).

Jadi tidak cukup hanya dengan Al-Quran saja tanpa dengan Al-Hikmah yang berarti Assunnah atau pemahaman yang benar tentang Al-Quran tersebut. Itulah mengapa Assunnah ini disebut Al-Hikmah.

Sehingga orang yang dianugerahi HIKMAH adalah:
  • Orang yang mempunyai ilmu mendalam dan mampu mengamalkannya.
  • Orang yang benar dalam perkataan dan perbuatan.
  • Orang yang  menempatkan sesuatu sesuai pada tempatnya (adil).
  • Orang yang melakukan atau tidak melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang seharusnya dilakukan atau tidak dilakukan.
  • Orang yang mampu memahami dan menerapkan hukum Allah.

HIKMAH bisa didapat dari siapa saja dan dalam peristiwa apa saja.
“Ambillah hikmah yang kamu dengan dari siapa saja, sebab hikmah itu kadang-kadang diucapkan oleh seseorang yang bukan ahli hikmah. Bukankah ada lemparan yang mengenai sasaran tanpa disengaja?”  (HR. Al-Askari dari Anas ra dalam kitab Kashful Khafa’ Jilid II, h.62)

“Hikmah laksana hak milik seorang mukmin yang hilang. Di manapun ia menjumpainya, di sana ia berhak mengambilnya”   (HR. Al-Askari dari Anas ra)

Begitu banyak ilmu dan hikmah yang disebarkan Allah subhana wata’ala di dunia ini. Sering kita menemukannya dari pelajaran di lembaga pendidikan, majlis ta’lim,  nasihat-nasihat orang tua, diskusi dengan teman, bahkan saat kita menyaksikan apa yang terjadi di penjuru langit dan bumi. Kekayaan ilmu yang Allah miliki tak pernah terbatas dan akan diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

Dan setelah kita mendapatkan HIKMAH tersebut  kita WAJIB menyampaikan, mendakwahkan, sesuai firman Allah (yang artinya):

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan AL-HIKMAH  dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS An-Naml: 125)

click to create your own

kita kan Geng